Tittle : Everything for Jaejoongie
Author : Han EunSu
Cast : YunHo – JaeJoong as their self
Rating : Pg13+
Genre : Fluff
Disclaimer : For so many times, Yunho is
having Jaejoong, n Jaejoong is having Yunho. The plot is mine.
Summary : Oneday Jaejoong got mad of Yunho
for some reason. He won’t open the door for Yunho. The story is begin how Yunho
manage so Jaejoong willing to open the door. Maybe a stick and cheesy word
would be help.
A/N : Hai hai….muncul lagi, hee. Kali ini
dapet inspirasi gara-gara chatingan sama Nunik onn, all thanks for her, love u
onnie yaa^^ Of course with all modif dari cerita aslinya xixixiii…Untuk sekian
kali maaf buat semua yang kena tag. FF ini bebas untuk semua kalangan yang
ngerasa cukup umur. Janji, kali ini bener2 drabble ^.^a Well, here we go with my nothing but typical boring FF^^
楽しみにいえてください!!
~~~~~~~~~~~~~~
TING
Hitungan detik, tidak lebih cepat dari itu.
Jaejoong melesat keluar dari lift begitu pintu terbuka. Wajah cemberut menemani
langkah super cepat kakinya. Siapa pun yang di hadapannya tanpa perlu berkata
apa pun sudah pasti menyingkir dengan ikhlas.
“Aish…..Jaejoong ah!”
Bahkan dengan masih berpenampilan artis,
Yunho ikut berlari keluar untuk mengejar. Namun, entah dengan kekuatan setan
apa, Yunho sangat sulit menyamai bahkan mengejar Jaejoong. Setelah pesawat
Yunho dipastikan mendarat dengan di Korea, penyanyi bertalenta itu langsung
menancapkan gas Audi menuju tempat favoritnya di Seoul. Entah ini bisa disebut
beruntung atau justru sial. Begitu sampai wajah muram Kim Jaejoong langsung
menyapanya. Seolah melihat hantu Jaejoong bergegas masuk ke dalam lift. Ia
harus rela menggunakan lift sebelah. Karena Jaejoong dengan cekatan menutup
pintu mesin angkut modern itu.
BRAK
Pintu mewah bernilai jutaan won menyapa
tepat di depan wajah Yunho. Mau tak mau ia harus menggedor, hmm…mungkin
mengetuk akan lebih halus.
“Jaejoong ah…kumohon dengarkan
penjelasanku,” kata Yunho sembari mengetuk-ngetuk pintu.
Tidak ada jawaban. Jaejoong sama sekali
tidak menyahut. Sepertinya laki-laki asal Gwangju itu mesti berusaha lebih
keras. Lagi pula ini bukan sekali atau dua kali ia harus meredakan seorang Kim
Jaejoong yang tengah merajuk. Ini bukan pekerjaan mudah. Beberapa kali Changmin
bahkan Yoochun harus angkat tangan.
“Aku tahu kau di dekat pintu, Joongie ah”
kali ini Yunho lebih melembutkan nada bicara. Berharap bisa sedikit melunakan
dinding batu yang tengah dibangun Jaejoong dalam hatinya. “Baik, kalau tidak
mau bicara denganku cukup dengan ketukan pintu, bagaimana?”
Masih tidak ada sahutan. Yunho sangat yakin
kalau Jaejoong tidak jauh dari pintu. Usaha sedikit lagi pasti akan berhasil.
Leader Dong Bang Shin Ki harus mampu menghadapi ini. Sesaat ia menatap benda di
tangannya. Yah…akhirnya ia memang membawakannya. Benda yang menjadi ujung
pangkal akhirnya Jaejoong harus merajuk. Seharusnya dari awal ia tidak perlu
bermain api.
“Joongie, kumohon, berikan aku satu ketukan kalau kau setuju dan dua ketukan
kalau tidak, apa begitu cukup?”
Tuk
Yunho mengembangkan senyum. Yappari,
Jaejoong memang ada di dekat pintu. Baru membayangkan wajah masam Jaejoong saja
jantung Yunho sudah berdebar begitu kencang. Ribuan genderang seolah ditabuhkan
tak menentu di dalam sana. Membuat sebuah irama nyaman. Tabuhan lembut mungkin
ditambah iringan kecapi aliran darah.
“Apa kau marah padaku?”
Cukup lama sebelum akhirnya telinga Yunho
menangkap satu buah ketukan. Otak Yunho lebih cepat bekerja sama dari yang ia
duga. Jeda tadi menurut Yunho adalah bukti bahwa Jaejoong tidak marah, hanya
sedang merajuk. Bahasa lain yang bisa digunakan adalah ngambek.
“Baik, aku yang salah –“
Tuk
“Ya, aku tahu aku salah. Sekarang aku minta
maaf, apa permintaanku diterima?”
Tuk Tuk
Ternyata memang tidak semudah itu. Mungkin
sedikit sogokan akan mempan.
“Baik, sebagai permintaan maaf, aku sudah
membawakan hadiah yang kau minta, bagaimana?”
Tuk Tuk
“Apa kau pikir aku berbohong?”
Tuk
“Maka dari itu, kumohon bukalah aku pintu
ini, lalu kau bisa mengambil hadiahmu, Joongie?”
Lagi-lagi ada selang waktu. Yunho yakin
kekasihnya itu tengah berpikir keras. Mungkin ini memang akan berhasil. Hanya
saja Yunho harus kembali mengurut dada saat ketukan ganda lagi-lagi mengusik
gendang telinganya. Tapi tenang, otak canggihnya siap memasok berbagai cara.
Kalau sudah sampai di sini lalu menyerah. Dirinya merasa tidak pantas lagi
menjadi kekasih seorang artis ternama yang sedang merajuk di balik pintu. Ini
cara terakhir, semoga berhasil.
“Sayang sekali,” ujar Yunho terdengar penuh
penyesalan. “Kalau begitu aku akan meletakan tongkatnya di sini dan setelah itu
pergi, selamat malam Joongie ah”
Yunho secara perlahan berjalan mundur. Tiap
detak jantungnya menghitung perlahan. Tidak ada ketukan. Mungkin memang cukup
untuk hari ini. Yunho harus menunggu sampai Jaejoong tenang. Tidak, masih ada
harapan. Ia tidak boleh menyerah. Menyerah tidak seharusnya ada dalam kamus
Jung Yunho.
Satu
Dua
Tiga
KLEK
Kepala, tangan, kaki, bahkan seluruh tubuh
Jaejoong akhirnya muncul seiring dengan daun pintu yang perlahan terbuka. Yunho
harus cepat-cepat menghilangkan senyum kemenangan dari wajah tampannya. Atau Jaejoong
kembali menggebrakan benda berengsel itu. Pelan Yunho berjalan mendekat
sementara Jaejoong mengambil tongkat bercahaya biru yang beberapa saat lalu
harus tergeletak di depan pintu. Hanya saja tersenyum masih belum menjadi
ornament di bibir manis Jaejoong.
“Maaf?”
Jaejoong tetap tidak menyahut. Ia kembali
masuk ke dalam. Namun kali ini dengan membiarkan pintunya terbuka.
Mengisyaratkan kalau Yunho sudah
diizinkan untuk masuk.
“Hei, tongkat itu tidak gratis, tidak mudah
mendapatkan itu,” Yunho bersujud di depan Jaejoong yang saat ini duduk di sofa
sambil bermain dengan tongkat barunya. Tongkat itu adalah salah satu properti
milik Yunho saat ia mengisi sebuah acara di televisi beberapa bulan yang lalu.
Hanya mata sebal yang menjawab perkataan Yunho barusan. “Kau harus berbicara
padaku.”
“Terimakasih?” sahut Jaejoong sekenanya.
“Joongie ah, aku sudah minta maaf,”
akhirnya Yunho mengambil tongkat yang sepertinya lebih mencuri perhatian
Jaejoong. Ia mengambil pipi kekasihnya dengan sedikit menekan, tenang saja
tentu tidak akan sampai remuk. Kalau ada kekerasan yang bisa dilakukan Yunho
pada Jaejoong mungkin dalam hal ‘lain’ tapi tidak untuk menyakiti. Maksudnya
memegang pipi laki-laki itu agar wajah Jaejoong berhadapan dengannya. Kemudian
duduk di sebelah Jaejoong dengan sama sekali tanpa jarak, tidak juga meski
untuk satu mili atau untuk satuan yang terkecil sekalipun. “Maafkan aku, hmm?”
Jaejoong menatap dengan sorot mata tajam.
Seperti induk macan yang siap menerkam kapan pun. Tusukan matanya begitu
menusuk sehingga sekali lagi menimbulkan tabuhan genderang pada jantung Yunho.
“Syarat,” ujarnya, masih belum berniat
mengeluarkan satu kalimat panjang.
“Kau mengajukan sebuah syarat?” tebak Yunho
yang hanya dijawab satu anggukan kepala, “Baik, aku akan melakukan apa pun. Apa
itu?”
Jaejoong merangkak naik ke pangkuan Yunho.
Tangannya dilingkarkan sempurna pada leher laki-laki itu. Sementara kakinya
terjulur mencari posisi yang nyaman di sofa dengan badan sepenuhnya bersandar
pada dada bidang Yunho. Baik, bagi Yunho sikap yang seperti ini jelas lebih
dari cukup Jaejoong sudah mengakhiri masa merajuknya.
“Apa kau yakin akan melakukan apa pun?”
Hati Yunho melonjak girang. Setidaknya
akhirnya Jaejoong mengeluarkan kalimat panjang di hari itu. Ditambah kenyataan
sekarang pria ini duduk tepat di atas pangkuannya. Serangkaian tebakan
melintasi kepalanya. Segala macam hal yang ia kira akan diminta Jaejoong
berkecamuk nyaman di dalam tayangan otaknya. “Sekalipun harus memutari Tokyo
dome sampai sepuluh putaran akan kulakukan.”
Apalagi sekarang Jaejoong memberikan tawa
kecil padanya, “Kau berlebihan”
“Aku sungguh-sungguh, bahkan kalau pun aku
harus mencuri makanan Changmin, merusak piano Yoochun atau mengambil koleksi
jersey milik Junsu.”
“Kalau itu kurasa kau cari mati”
Mereka tertawa bersama. “Sekarang katakan?”
“Kau harus memotret –ku dengan tongkat ini
sampai aku bilang cukup, bagaimana?”
Pinta Jaejoong dengan lebih mendekatkan
wajah mereka. Sehingga napas keduanya semakin bertabrakan. Mata mereka tidak lagi
bisa berkompromi untuk terbuka sempurna. Suasana ini terlalu memonopoli.
Hembusan napas, aroma tubuh, menjadi salah satu pemicu keinginan untuk segera
menyudahi pembicaraan. Melakukan hal yang sebenarnya dinanti keduanya sejak
awal.
“Sudah kubilang apa pun,” jawab Yunho lebih
berbisik. Hempasan napas Yunho memudarkan konsentrasi Jaejoong. Yunho memajukan
kepalanya, membuat bibir mereka berbenturan. “Tapi kumohon setelah ini.”
“Terserah kau,” Jaejoong segera
menggoyangkan bibirnya.
Dengan senang hati Yunho langsung menyambut
bibir Jaejoong. Lumatan demi lumatan terjadi dengan cepat. Detik berikutnya,
lidah mereka masing-masing sudah dengan lincah bertemu. Seolah irama itu sudah
begitu akrab dengan mereka. Keluhan terdengar dari mulut keduanya saat ciuman
mereka semakin meningkat. Mungkin bercumbu akan menjadi kosa kata yang lebih
cepat. Tidak perlu disebutkan hal-hal yang jelas dikerjakan tangan mereka
selagi sesi romantis ini.
Mereka pun bercumbu sampai setengah jam ke
depan sebelum Yunho akhirnya dibuat kewalahan karena harus mengambil foto
Jaejoong di seluruh bagian panthouse –nya hampir semalaman. Tentu saja dengan
beragam pose unik tanpa habis gaya ala Kim Jaejoong. Tidak lupa dengan properti
tongkat starwars.
“Jaejoong ah, ini sudah foto yang ke
seratus lima puluh tiga, kurasa cukup?!”
“Hya, kau sudah berjanji,” kecam Jaejoong
yang sudah bersiap dengan pose unik berikutnya, “Cepat foto!”
“Huft…” tidak ada pilihan lain Yunho
kembali memotret, “Everything for Jaejoongie.”
~The End~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar