Tittle : Ame ga
Dakishimete 雨が抱きしめて
Author : Han Eunsu
Rating : General
Cast : Yunho-Jaejoong,
Changmin, Yoochun as them self
Genre : Never get tired
for Yunjae’s fluff-ness^^
Disclaimer : Yunho is
Jaejoong’s, Jaejoong is Yunho’s, Plot is mine, That’s it
Summary : Bukan berlebihan
tapi kalau sudah rindu siapa yang bisa menahannya? Meskipun mudah dimengerti
tapi sulit untuk dipahami. Jung Yunho sendiri tidak mengerti kegelisahannya.
A/N : hy…another geje
story. Aku-nya ga tau kenapa galau tiba-tiba. Jadi yang galau bukan YunJae
sebenernya. Hee….Maap ganggu ya, maap juga for all failed things~
Sekali lagi ini semua cuma
karangan di otak-ku jadi jangan terlalu dihubungin sama yang aslinya \^.^>
Un re-read, sorry for a
lot of misstake
Dozo, yoroshiku!!
#######################
“Hyung, kau tidak tidur?”
Aku juga tidak tahu tapi perasaanku benar-benar tidak
tenang. Aku menoleh mendapati Changmin yang sedang mengeringkan rambutnya. Menurutku
rambut Changmin sebaiknya tidak usah di keringkan. Rambut keriting karena basah
itu lebih pantas dan tidak mengganggu mataku. Jujur aku sedikit tidak nyaman
melihat poni Changmin yang menjuntai bagai air terjun itu. Sama sekali tidak
keren, semoga dia tidak bisa membaca pikiranku.
“Tidak, aku sedang memikirkan sesuatu….” tapi apa aku
juga tidak tau. Persaanku sungguh terasa diombang-ambing. Padahal seingatku
setelah kembali ke Korea kemarin, aku masih baik-baik saja.
“Hyung!”
“Eh?”
Aku langsung sadar. Changmin memandangku curiga.
Hentikan tatapan mata menyeramkan itu Changmin ah. Anak itu menarik kursi makan
tepat di hadapanku. Tanganku kembali bermain dengan ponsel.
“Kau kenapa?”
“Entahlah,” sahutku singkat. Aku bahkan tidak mengerti
apa yang membuatku tidak tenang. Kutekan tombol kunci ponselku. Wajah tampan,
mulus, putih bersih tanpa noda terpampang jelas di layar. Aku tersenyum
sebentar. Mungkin aku rindu padanya. Apa memungkinkan aku menelponnya sekarang.
Sebaiknya jangan, dia pasti lelah setela perjalanan dari Turki kemarin.
“Entahlah?” Changmin kembali memberikan tatapan tidak
percaya. “Kau tahu, wajahmu seperti orang yang bosan hidup”
Aku tertawa kecil melihat Changmin berusaha menirukan
wajahku sekarang. Dari yang kulihat memang cukup menyedihkan. Hanya saja kurasa
Changmin sedikit berlebihan memeragakannya. “Benarkah? Kapan kau kembali ke
Jepang?”
Changmin
mengangguk pasti.
“Jawab dengan
benar, hyung, jangan harap bisa berbohong padaku. Dan jangan juga coba
mengalihkan pembicaraan. Besok pagi aku berangkat”
“Aku hanya lelah, mungkin,” jawabku asal. Aku tahu
jawaban seperti itu tidak akan membuat Changmin puas. Lihat saja – sekarang dia
malah memutarkan bola matanya yang cukup besar saat melotot begitu.
“Dan kau berharap aku percaya dengan jawaban itu?
Sudah kubilang, kau tidak bisa menipuku”
Aku mengangkat bahu. Kalau aku punya jawaban yang
lebih masuk akal pasti sudah kukatakan. Hanya saja aku sendiri tidak tahu.
“Kau tidak mungkin terbawa suasana hujan, bukan?!”
tandas Changmin lagi.
Sekali lagi aku hanya mengangkat bahu. Bisa jadi,
diguyur hujan di musim begini memang membuat suasana sedikit suram. Mungkin aku
hanya butuh kehangatan. Dan lagi-lagi hanya mungkin. Gelisah tanpa alasan
ternyata cukup menyiksa. Lagi pula ide untuk menelpon satu-satunya orang yang
bisa membuatku hangat sudah ku-urungkan tadi. Jadi, bagaimana sekarang?
“Mau apa?”
Changmin hanya tersenyum. Barusan dia merampas
ponselku begitu saja. Dasar anak ini. Kapan dia berhenti membuat jantungku
bekerja ekstra. Baru tadi aku pikir, aku bisa sedikit bercerita. Mungkin aku
sebaiknya menelpon Yoochun saja.
“Kau sedang apa?” Changmin tiba-tiba saja memotretku
dan….
“Sudah selesai,” dia mengembalikan ponselku, dengan
senyum yang bagaimana aku menjelaskannya? Sunguh-sungguh mencurigakan. Kalau
pernah menonton film detektif, senyum itu sering muncul di wajah semua orang.
Aku sekali lagi menatapnya yang ternyata sekarang sedang beranjak. Tangannya
menutup mulut yang menguap, kemudian merenggangkan ototnya memperlihatkan
otot-otot halus disekitar lengannya. Changmin benar-benar sudah tumbuh dewasa
sekarang. “Aku sudah lelah, aku tidur duluan, kau jangan terlalu lama di sini,
oyasumi nii-chan.”
“O…oyasumi,” pandangan mataku seperti habis melihat
pertunjukan sirkus. Kutarik semua kata-kataku tentang pertumbuhan dewasa anak
ini. Mendadak dia bersikap imut begitu. Sungguh, untuk Changmin yang seperti
ini namanya bencana.
Drrt drrt drrrrt
Yoochunie. Nama itu tertera di display ponselku.
Kenapa Yoochun tiba-tiba menelpon. Tapi baguslah, bukankah tadi aku juga sudah
berniat akan menelponnya. Aku segera menyeret gambar pesawat telepon pada layar
touch. Aku mengeluh dalam hati, ini pasti ada hubungannya dengan kelakuan
Changmin tadi. Sudah kuduga ini semua modus. Tapi baiklah mungkin bisa membantu
menghilangkan perasaan yang tidak jelas ini. Asal jangan terlalu konyol.
“Chunie ah?!”
“Kau telat beberapa menit, hyung….” ujarnya. Dari nada
bicaranya aku hapal, dia sedang menyesal. Dahiku mengernyit. Meski Yoochun
tidak melihat tapi aku yakin dia membayangkan. Atau tidak? Sudahlah…
“Bisa kau jelaskan, chunie?” tanyaku, langsung
menyatakan ketidak pahamanku.
“Hmm….” Yoochun tampak berpikir sebentar. Tampaknya
dia juga jadi sedikit heran. “Kurasa Changmin mengerjaimu, hyung.”
“Apa?” sudah kuduga, tapi mendapat bukti dari hipotesa
sendiri itu berbeda. Aku lebih penasaran apa yang Changmin lakukan. Baiklah,
ini sedikit menghilangkan rasa tidak enak pada diriku. Sedikit, benar-benar
hanya sedikit. Seperti air yang menetes dari rambut Changmin yang basah tadi.
“Apa dia sudah tidur?”
Terdengar suara tertawa di seberang sana. Kurasa
Yoochun sudah lebih dulu menyimpulkan semuanya. Aku ikut tertawa pelan saja,
meski belum paham apa yang terjadi.
“Justru itu aku bilang kau terlambat,” sahut Yoochun.
Jujur saja, rasa yang tadi sedikit menghilang seketika merambat naik. Bahkan
memberikan getaran yang lebih. Rasa takut dan khawatir tiba-tiba saja
menyeruak. “Jaejoong hyung, baru saja keluar, aku sedang menginap di sini.
Tepat beberapa menit setelah itu mms dari-mu, salah maksudku dari Changmin
masuk, dia keluar tanpa membawa handphone,
hyung.”
Aku beranjak dari tempat duduk-ku. Tiba-tiba saja
langsung panik. Sekarang jelas apa yang membuatku tidak enak sejak tadi.
Perasaan yang tadi kupendam sekarang berdesakan ingin keluar. Seolah berjebal
di dalam jantungku sehingga berpacu begitu cepat. Tidak kuasa menahan gejolak
khawatir yang sejak tadi bersembunyi entah di ujung hati sebelah mana.
“Apa!!” aku menaikan nada suaraku. Memang akhirnya
beberapa rasa itu berhasil keluar melalui tenggorokan. “Dia keluar di tengah
hujan begini? Apa dia tidak bilang mau pergi ke mana?”
Aku malah mendengar Yoochun kembali tertawa. Baiklah,
mungkin aku agak berlebihan.
“Tenanglah hyung,” ujar Yoochun saat dia sudah
berhasil mengatasi tawanya yang entah sejak kapan meledak begitu saja. Mereka
(Changmin, Yoochun, Junsu) memang seperti ini. Mereka kadang seperti menikmati
saat Aku dan Jaejoong sedang panik. “Kau tidak penasaran apa yang dikirim
Changmin kemari?”
“Ayolah Chunie, mana sempat aku memikirkan itu saat
aku bahkan tidak tahu Jaejoong ada di mana. Demi tuhan, di luar sana hujannya
deras!” celotehku.
Aku malah mendengar Yoochun semakin tertawa. “Justru
itu, kau harus tahu hyung, barusan Changmin mengirim wajah suram-mu.”
“Eh?” mau tidak mau aku jadi penasaran. Segera kucek
ponselku, tentu saja tidak lupa memasang loud speaker agar suara Yoochun tetap
terdengar.
“Kau tahu, hyung?” lanjut Yoochun, “Wajah Jaejoong
hyung tidak jauh beda dengan yang kau tunjukan, dan menurut firasatku sebentar
lagi kau akan tahu kemana pujaan hatimu itu.”
Ting Tong Ting Tong
Selesai Yoochun berbicara seseorang menekan bel
apartemen kami. Tanpa menyahut Yoochun lagi, aku segera berlari menuju pintu.
Kurasa aku juga mengerti firasat Yoochun yang sebenarnya juga sama denganku.
Malah aku sejak tadi. Hanya saja anak itu lebih cepat membaca firasatnya
dibandingkan aku. Tanpa melihat lagi layar LCD kamera pengintai aku bergegas
membuka pintu.
“Hai!”
Benar saja. Wajah tampan nan cantik namun menggigil
itu segera menyapaku. Dia memperlihatkan rentetan gigi putih memukau itu.
Membuat semua kata-kata marahku lenyap begitu saja. Rasanya tidak tega
mengomeli. Otakku cepat memilih memeluknya dan menarik sosok itu masuk ke dalam
apartemen. Sebelah tanganku mematikan ponsel, kurasa Yoochun akan paham.
Suaraku langsung lembut begitu saja. Semua nada tinggi
tadi juga sudah kembali tertidur lelap. Deburan jantung ini juga sudah tidak
seperti desakan lagi. Terasa lebih nyaman dan aku menyukai yang seperti ini.
“Apa yang kau lakukan, hmm?” tanyaku berusaha
mengeringkan air dari wajah Jaejoong.
Dia menatapku. Demi tuhan, pancaran mata itu sanggup
melumpuhkan seluruh persendianku. Tulangku seakan berkompromi untuk melemas.
Jantungku kembali berdegup kencang.
“Aku merindukanmu,” setelah mengucapkannya, ia kembali
memeluku. Aku merasakan getaran dan hembusan hangat napasnya di sekitar
leherku. Suara bisikannya terdengar pilu, sanggup menusuk hatiku. “Aku
merindukanmu, Jung Yunho.”
“Aku juga, Joongie ah”
Aku balas berbisik. Mendekapnya erat, mencoba
menyingkirkan air hujan yang terguyur di sekujur tubuh Jaejoong. Setelah itu,
aku membawa Jaejoong ke kamarku. Dia harus mandi sebelum sakit. Aku memberikan
handuk kering dan dia menerimanya tanpa banyak bicara. Lalu masuk ke kamar
mandi. Lalu kembali menyembulkan kepalanya.
Lima belas menit kemudian Jaejoong keluar dari kamar
mandi. Ia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk, seperti Changmin
tadi. Tapi jelas kalau Jaejoong yang melakukannya terlihat begitu seksi di
mataku. Apa lagi saat ini seluruh bagian atasnya terekspos. Memanjakan mataku.
Aku harus bersyukur terlahir sebagai Jung Yunho. Karena aku bisa menikmati
sosok terindah yang Tuhan ciptakan. Aku segera beranjak dari tempat tidurku
berbaring selagi menunggu Jaejoong mandi tadi. Lalu kupeluk dia dari belakang.
“Bagaimana kau bisa kehujanan, hmm?” bisik-ku, dengan
sengaja mendekatkan diriku pada telinganya. Berharap hembusan napasku bisa
menghangatkannya yang kedinginan.
“Aku berlari sampai ke sini, apa kau percaya?”
Jaejoong menatapku lekat-lekat melalui cermin. Ia pun meletakan handuk yang ia
pakai untuk mengeringkan rambut dan berbalik menghadapku. Tangan-nya terlatih
untuk segera melingkar di leherku.
“Bahkan kalau kau mengatakan terbang kemari pun aku
percaya,” sahutku, hidungku sengaja kurapatkan dengannya. Mengecup bibirnya
lembut. Kurasakan ia tersenyum.
“What a corny,” Jaejoong balas mengecupku. Kaki kami
melangkah seirama. Jaejoong berjalan maju dan membuatku mundur perlahan. Begitu
kurasakan kaki-ku membentur sesuatu yang cukup lembut. Aku langsung terduduk
dan Jaejoong duduk di atasku. Wajah kami benar-benar tanpa jarak. Kurasa tidak
ada penggaris yang dibuat sedemikian kecil untuk mengukur jarak wajah kami.
“Kau tahu?”
“Bahwa kau merindukanku?” godaku sambil menikmati
tangan Jaejoong yang bermain dengan rambutku. Namun segera beranjak memukul
dadaku pelan. Tidak lama karena segera kembali memeluk tubuhku. Sungguh, aku
sangat merindukan orang ini. Aku sekarang tahu alasan kegelisahanku. Aku
merindukan Kim Jaejoong. Aku lebih merapatkan tubuh Jaejoong di pangkuanku.
“Aku sengaja berlari, dan tidak memakai mobilku.”
Jujur aku sedikit kaget mendengarnya. Sebenarnya aku
bersiap untuk mengeluarkan ribuan nasehat. Tapi lagi-lagi hilang begitu saja
begitu dia mengecup bibirku. Aku seketika memaklumi tingkahnya. Seharusnya aku
segera menghubungi Jaejoong. Aku lebih tahu dari siapa pun senekat apa seorang
Kim Jaejoong.
“Tapi kau jangan marah padaku, aku punya alasan.”
ujarnya sedikit manja, seolah bisa membaca pikiranku.
“Tidak, asal kau punya alasan yang jelas,” jawabku.
Padahal aku tahu Jaejoong sudah menduga aku tidak marah.
“Ini salahmu”
“Salahku?”
Jaejoong mengangguk. Mata kami saling berbenturan
sekarang. Tentusaja membuat jantungku seperti dipukul-pukul lembut. Mata itu
selain sanggup membuat tubuhku melemas juga sanggup menggetarkan hatiku.
“Kau tidak menghubungiku, jadi aku nekat datang
kemari.”
“Ya, dan kemana mobilmu, Kim Jaejoong? Kau jadi tidak
perlu kehujanan, kau tahu, aku sangat kuatir waktu Yoochun-ie bilanga kau pergi
begitu saja,” ceramahku. Jaejoong langsung mencebil. Ini serius, aku tidak
pernah bosan melihat wajah imutnya begini.
“Kalau aku bawa mobil, aku akan kerepotan menghindari
semua orang. Kalau aku berlari tidak akan ada yang menyadari kalau aku Kim
Jaejoong. Apa kau sudah lupa memacari seorang superstar?”
Komentarnya membuat tawaku pecah. Benar juga, aku
sempat lupa satu fakta kenarsisan kekasihku ini. Juga kenyataan kalau aku
sedang berhadapan dengan penyanyi ternama yang sanggup membuat gadis sampai
pria bertekuk lutut mengidolakannya. Membuat semua orang yakin tidak yakin
tentang ke-konkritan hubungan YunJae dengan kata-kata di akun twitter. Dia ini
Kim Jaejoong tapi yang lebih penting lagi dia adalah kekasih Jung Yunho.
“Alasan diterima,” jawabku singkat. Senyuman kembali
berkembang di wajah kami. “Kurasa predikat ‘superstar’ sudah diberikan padaku,
Jung Yunho”
“Bagus, karena aku ingin merasakan bibir ‘superstar’
itu sekarang juga,” tidak menunggu waktu lama, Jaejoong segera melumat bibirku.
Kami tidak perlu waktu sedetikpun untuk saling menggulum dan menyesuaikan
irama. “Kau tahu? Aku lebih rela memeluk hujan dari pada tidak bisa melihatmu
ketika aku tahu aku punya kesempatan bertemu denganmu”
Jaejoong berbicara tepat di depan bibirku. Membuat
desiran darahku mengalir lebih cepat. Memaksaku memutar badan kami agar merebah
di ranjang. Aku segera menyerangnya dengan cumbuan. Keluhan Jaejoong terdengar
sempurna di telingaku. Kami melepaskan ciuman, kemudian saling menatap.
“Ame ga dakishimete mo, kimi ni aetara ureshii darou,
boku wa itsumo koko ni, kimi dake no tame, atatakai ni agerun da” bisik-ku.
Lalu kembali menyerang bibir Jaejoong dengan lebih intensif. Ia kembali
menggumam di sela cumbu-rayu kami.
“Sore nara, ame ga dakishimete mo ii jya-”
Selanjutnya kami berhenti berbicara. Dan saling
memberikan kehangatan dengan cara kami. Di usia kami seharusnya hal ini tidak
termasuk hal nakal. Sekarang aku malah berharap hujan datang setiap hari.
---------------------------------
Sementara itu,
“Ya Tuhan, kuharap mereka mengerti aku harus mengejar
pesawat pagi ke Jepang besok,” keluh Changmin sambil membenamkan kepalanya di
dalam bantal dan mendekapnya erat.
~The End~
That’s it, once again sorry for disturb all of you,
but I hoping for ur enjoy….
love ya \^.^/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar