YunJae World

2012/11/09

Ame Ga Dakishimete


Tittle : Ame ga Dakishimete 雨が抱きしめて
Author : Han Eunsu
Rating : General
Cast : Yunho-Jaejoong, Changmin, Yoochun as them self
Genre : Never get tired for Yunjae’s fluff-ness^^

Disclaimer : Yunho is Jaejoong’s, Jaejoong is Yunho’s, Plot is mine, That’s it

Summary : Bukan berlebihan tapi kalau sudah rindu siapa yang bisa menahannya? Meskipun mudah dimengerti tapi sulit untuk dipahami. Jung Yunho sendiri tidak mengerti kegelisahannya.

A/N : hy…another geje story. Aku-nya ga tau kenapa galau tiba-tiba. Jadi yang galau bukan YunJae sebenernya. Hee….Maap ganggu ya, maap juga for all failed things~
Sekali lagi ini semua cuma karangan di otak-ku jadi jangan terlalu dihubungin sama yang aslinya \^.^>

Un re-read, sorry for a lot of misstake
Dozo, yoroshiku!!

#######################

“Hyung, kau tidak tidur?”

Aku juga tidak tahu tapi perasaanku benar-benar tidak tenang. Aku menoleh mendapati Changmin yang sedang mengeringkan rambutnya. Menurutku rambut Changmin sebaiknya tidak usah di keringkan. Rambut keriting karena basah itu lebih pantas dan tidak mengganggu mataku. Jujur aku sedikit tidak nyaman melihat poni Changmin yang menjuntai bagai air terjun itu. Sama sekali tidak keren, semoga dia tidak bisa membaca pikiranku.

“Tidak, aku sedang memikirkan sesuatu….” tapi apa aku juga tidak tau. Persaanku sungguh terasa diombang-ambing. Padahal seingatku setelah kembali ke Korea kemarin, aku masih baik-baik saja.

“Hyung!”

“Eh?”


Aku langsung sadar. Changmin memandangku curiga. Hentikan tatapan mata menyeramkan itu Changmin ah. Anak itu menarik kursi makan tepat di hadapanku. Tanganku kembali bermain dengan ponsel.

“Kau kenapa?”

“Entahlah,” sahutku singkat. Aku bahkan tidak mengerti apa yang membuatku tidak tenang. Kutekan tombol kunci ponselku. Wajah tampan, mulus, putih bersih tanpa noda terpampang jelas di layar. Aku tersenyum sebentar. Mungkin aku rindu padanya. Apa memungkinkan aku menelponnya sekarang. Sebaiknya jangan, dia pasti lelah setela perjalanan dari Turki kemarin.

“Entahlah?” Changmin kembali memberikan tatapan tidak percaya. “Kau tahu, wajahmu seperti orang yang bosan hidup”

Aku tertawa kecil melihat Changmin berusaha menirukan wajahku sekarang. Dari yang kulihat memang cukup menyedihkan. Hanya saja kurasa Changmin sedikit berlebihan memeragakannya. “Benarkah? Kapan kau kembali ke Jepang?”

 Changmin mengangguk pasti.

 “Jawab dengan benar, hyung, jangan harap bisa berbohong padaku. Dan jangan juga coba mengalihkan pembicaraan. Besok pagi aku berangkat”

“Aku hanya lelah, mungkin,” jawabku asal. Aku tahu jawaban seperti itu tidak akan membuat Changmin puas. Lihat saja – sekarang dia malah memutarkan bola matanya yang cukup besar saat melotot begitu.

“Dan kau berharap aku percaya dengan jawaban itu? Sudah kubilang, kau tidak bisa menipuku”

Aku mengangkat bahu. Kalau aku punya jawaban yang lebih masuk akal pasti sudah kukatakan. Hanya saja aku sendiri tidak tahu.

“Kau tidak mungkin terbawa suasana hujan, bukan?!” tandas Changmin lagi.

Sekali lagi aku hanya mengangkat bahu. Bisa jadi, diguyur hujan di musim begini memang membuat suasana sedikit suram. Mungkin aku hanya butuh kehangatan. Dan lagi-lagi hanya mungkin. Gelisah tanpa alasan ternyata cukup menyiksa. Lagi pula ide untuk menelpon satu-satunya orang yang bisa membuatku hangat sudah ku-urungkan tadi. Jadi, bagaimana sekarang?

“Mau apa?”

Changmin hanya tersenyum. Barusan dia merampas ponselku begitu saja. Dasar anak ini. Kapan dia berhenti membuat jantungku bekerja ekstra. Baru tadi aku pikir, aku bisa sedikit bercerita. Mungkin aku sebaiknya menelpon Yoochun saja.

“Kau sedang apa?” Changmin tiba-tiba saja memotretku dan….

“Sudah selesai,” dia mengembalikan ponselku, dengan senyum yang bagaimana aku menjelaskannya? Sunguh-sungguh mencurigakan. Kalau pernah menonton film detektif, senyum itu sering muncul di wajah semua orang. Aku sekali lagi menatapnya yang ternyata sekarang sedang beranjak. Tangannya menutup mulut yang menguap, kemudian merenggangkan ototnya memperlihatkan otot-otot halus disekitar lengannya. Changmin benar-benar sudah tumbuh dewasa sekarang. “Aku sudah lelah, aku tidur duluan, kau jangan terlalu lama di sini, oyasumi nii-chan.”

“O…oyasumi,” pandangan mataku seperti habis melihat pertunjukan sirkus. Kutarik semua kata-kataku tentang pertumbuhan dewasa anak ini. Mendadak dia bersikap imut begitu. Sungguh, untuk Changmin yang seperti ini namanya bencana.

Drrt drrt drrrrt

Yoochunie. Nama itu tertera di display ponselku. Kenapa Yoochun tiba-tiba menelpon. Tapi baguslah, bukankah tadi aku juga sudah berniat akan menelponnya. Aku segera menyeret gambar pesawat telepon pada layar touch. Aku mengeluh dalam hati, ini pasti ada hubungannya dengan kelakuan Changmin tadi. Sudah kuduga ini semua modus. Tapi baiklah mungkin bisa membantu menghilangkan perasaan yang tidak jelas ini. Asal jangan terlalu konyol.

“Chunie ah?!”

“Kau telat beberapa menit, hyung….” ujarnya. Dari nada bicaranya aku hapal, dia sedang menyesal. Dahiku mengernyit. Meski Yoochun tidak melihat tapi aku yakin dia membayangkan. Atau tidak? Sudahlah…

“Bisa kau jelaskan, chunie?” tanyaku, langsung menyatakan ketidak pahamanku.

“Hmm….” Yoochun tampak berpikir sebentar. Tampaknya dia juga jadi sedikit heran. “Kurasa Changmin mengerjaimu, hyung.”

“Apa?” sudah kuduga, tapi mendapat bukti dari hipotesa sendiri itu berbeda. Aku lebih penasaran apa yang Changmin lakukan. Baiklah, ini sedikit menghilangkan rasa tidak enak pada diriku. Sedikit, benar-benar hanya sedikit. Seperti air yang menetes dari rambut Changmin yang basah tadi. “Apa dia sudah tidur?”

Terdengar suara tertawa di seberang sana. Kurasa Yoochun sudah lebih dulu menyimpulkan semuanya. Aku ikut tertawa pelan saja, meski belum paham apa yang terjadi.

“Justru itu aku bilang kau terlambat,” sahut Yoochun. Jujur saja, rasa yang tadi sedikit menghilang seketika merambat naik. Bahkan memberikan getaran yang lebih. Rasa takut dan khawatir tiba-tiba saja menyeruak. “Jaejoong hyung, baru saja keluar, aku sedang menginap di sini. Tepat beberapa menit setelah itu mms dari-mu, salah maksudku dari Changmin masuk, dia keluar tanpa membawa handphone, hyung.”

Aku beranjak dari tempat duduk-ku. Tiba-tiba saja langsung panik. Sekarang jelas apa yang membuatku tidak enak sejak tadi. Perasaan yang tadi kupendam sekarang berdesakan ingin keluar. Seolah berjebal di dalam jantungku sehingga berpacu begitu cepat. Tidak kuasa menahan gejolak khawatir yang sejak tadi bersembunyi entah di ujung hati sebelah mana.

“Apa!!” aku menaikan nada suaraku. Memang akhirnya beberapa rasa itu berhasil keluar melalui tenggorokan. “Dia keluar di tengah hujan begini? Apa dia tidak bilang mau pergi ke mana?”

Aku malah mendengar Yoochun kembali tertawa. Baiklah, mungkin aku agak berlebihan.

“Tenanglah hyung,” ujar Yoochun saat dia sudah berhasil mengatasi tawanya yang entah sejak kapan meledak begitu saja. Mereka (Changmin, Yoochun, Junsu) memang seperti ini. Mereka kadang seperti menikmati saat Aku dan Jaejoong sedang panik. “Kau tidak penasaran apa yang dikirim Changmin kemari?”

“Ayolah Chunie, mana sempat aku memikirkan itu saat aku bahkan tidak tahu Jaejoong ada di mana. Demi tuhan, di luar sana hujannya deras!” celotehku.

Aku malah mendengar Yoochun semakin tertawa. “Justru itu, kau harus tahu hyung, barusan Changmin mengirim wajah suram-mu.”

“Eh?” mau tidak mau aku jadi penasaran. Segera kucek ponselku, tentu saja tidak lupa memasang loud speaker agar suara Yoochun tetap terdengar.

“Kau tahu, hyung?” lanjut Yoochun, “Wajah Jaejoong hyung tidak jauh beda dengan yang kau tunjukan, dan menurut firasatku sebentar lagi kau akan tahu kemana pujaan hatimu itu.”

Ting Tong Ting Tong

Selesai Yoochun berbicara seseorang menekan bel apartemen kami. Tanpa menyahut Yoochun lagi, aku segera berlari menuju pintu. Kurasa aku juga mengerti firasat Yoochun yang sebenarnya juga sama denganku. Malah aku sejak tadi. Hanya saja anak itu lebih cepat membaca firasatnya dibandingkan aku. Tanpa melihat lagi layar LCD kamera pengintai aku bergegas membuka pintu.

“Hai!”

Benar saja. Wajah tampan nan cantik namun menggigil itu segera menyapaku. Dia memperlihatkan rentetan gigi putih memukau itu. Membuat semua kata-kata marahku lenyap begitu saja. Rasanya tidak tega mengomeli. Otakku cepat memilih memeluknya dan menarik sosok itu masuk ke dalam apartemen. Sebelah tanganku mematikan ponsel, kurasa Yoochun akan paham.

Suaraku langsung lembut begitu saja. Semua nada tinggi tadi juga sudah kembali tertidur lelap. Deburan jantung ini juga sudah tidak seperti desakan lagi. Terasa lebih nyaman dan aku menyukai yang seperti ini.

“Apa yang kau lakukan, hmm?” tanyaku berusaha mengeringkan air dari wajah Jaejoong.

Dia menatapku. Demi tuhan, pancaran mata itu sanggup melumpuhkan seluruh persendianku. Tulangku seakan berkompromi untuk melemas. Jantungku kembali berdegup kencang.

“Aku merindukanmu,” setelah mengucapkannya, ia kembali memeluku. Aku merasakan getaran dan hembusan hangat napasnya di sekitar leherku. Suara bisikannya terdengar pilu, sanggup menusuk hatiku. “Aku merindukanmu, Jung Yunho.”

“Aku juga, Joongie ah”

Aku balas berbisik. Mendekapnya erat, mencoba menyingkirkan air hujan yang terguyur di sekujur tubuh Jaejoong. Setelah itu, aku membawa Jaejoong ke kamarku. Dia harus mandi sebelum sakit. Aku memberikan handuk kering dan dia menerimanya tanpa banyak bicara. Lalu masuk ke kamar mandi. Lalu kembali menyembulkan kepalanya.

Lima belas menit kemudian Jaejoong keluar dari kamar mandi. Ia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk, seperti Changmin tadi. Tapi jelas kalau Jaejoong yang melakukannya terlihat begitu seksi di mataku. Apa lagi saat ini seluruh bagian atasnya terekspos. Memanjakan mataku. Aku harus bersyukur terlahir sebagai Jung Yunho. Karena aku bisa menikmati sosok terindah yang Tuhan ciptakan. Aku segera beranjak dari tempat tidurku berbaring selagi menunggu Jaejoong mandi tadi. Lalu kupeluk dia dari belakang.

“Bagaimana kau bisa kehujanan, hmm?” bisik-ku, dengan sengaja mendekatkan diriku pada telinganya. Berharap hembusan napasku bisa menghangatkannya yang kedinginan.

“Aku berlari sampai ke sini, apa kau percaya?” Jaejoong menatapku lekat-lekat melalui cermin. Ia pun meletakan handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambut dan berbalik menghadapku. Tangan-nya terlatih untuk segera melingkar di leherku.

“Bahkan kalau kau mengatakan terbang kemari pun aku percaya,” sahutku, hidungku sengaja kurapatkan dengannya. Mengecup bibirnya lembut. Kurasakan ia tersenyum.

“What a corny,” Jaejoong balas mengecupku. Kaki kami melangkah seirama. Jaejoong berjalan maju dan membuatku mundur perlahan. Begitu kurasakan kaki-ku membentur sesuatu yang cukup lembut. Aku langsung terduduk dan Jaejoong duduk di atasku. Wajah kami benar-benar tanpa jarak. Kurasa tidak ada penggaris yang dibuat sedemikian kecil untuk mengukur jarak wajah kami. “Kau tahu?”

“Bahwa kau merindukanku?” godaku sambil menikmati tangan Jaejoong yang bermain dengan rambutku. Namun segera beranjak memukul dadaku pelan. Tidak lama karena segera kembali memeluk tubuhku. Sungguh, aku sangat merindukan orang ini. Aku sekarang tahu alasan kegelisahanku. Aku merindukan Kim Jaejoong. Aku lebih merapatkan tubuh Jaejoong di pangkuanku.

“Aku sengaja berlari, dan tidak memakai mobilku.”

Jujur aku sedikit kaget mendengarnya. Sebenarnya aku bersiap untuk mengeluarkan ribuan nasehat. Tapi lagi-lagi hilang begitu saja begitu dia mengecup bibirku. Aku seketika memaklumi tingkahnya. Seharusnya aku segera menghubungi Jaejoong. Aku lebih tahu dari siapa pun senekat apa seorang Kim Jaejoong.

“Tapi kau jangan marah padaku, aku punya alasan.” ujarnya sedikit manja, seolah bisa membaca pikiranku.

“Tidak, asal kau punya alasan yang jelas,” jawabku. Padahal aku tahu Jaejoong sudah menduga aku tidak marah.

“Ini salahmu”

“Salahku?”

Jaejoong mengangguk. Mata kami saling berbenturan sekarang. Tentusaja membuat jantungku seperti dipukul-pukul lembut. Mata itu selain sanggup membuat tubuhku melemas juga sanggup menggetarkan hatiku.

“Kau tidak menghubungiku, jadi aku nekat datang kemari.”

“Ya, dan kemana mobilmu, Kim Jaejoong? Kau jadi tidak perlu kehujanan, kau tahu, aku sangat kuatir waktu Yoochun-ie bilanga kau pergi begitu saja,” ceramahku. Jaejoong langsung mencebil. Ini serius, aku tidak pernah bosan melihat wajah imutnya begini.

“Kalau aku bawa mobil, aku akan kerepotan menghindari semua orang. Kalau aku berlari tidak akan ada yang menyadari kalau aku Kim Jaejoong. Apa kau sudah lupa memacari seorang superstar?”

Komentarnya membuat tawaku pecah. Benar juga, aku sempat lupa satu fakta kenarsisan kekasihku ini. Juga kenyataan kalau aku sedang berhadapan dengan penyanyi ternama yang sanggup membuat gadis sampai pria bertekuk lutut mengidolakannya. Membuat semua orang yakin tidak yakin tentang ke-konkritan hubungan YunJae dengan kata-kata di akun twitter. Dia ini Kim Jaejoong tapi yang lebih penting lagi dia adalah kekasih Jung Yunho.

“Alasan diterima,” jawabku singkat. Senyuman kembali berkembang di wajah kami. “Kurasa predikat ‘superstar’ sudah diberikan padaku, Jung Yunho”

“Bagus, karena aku ingin merasakan bibir ‘superstar’ itu sekarang juga,” tidak menunggu waktu lama, Jaejoong segera melumat bibirku. Kami tidak perlu waktu sedetikpun untuk saling menggulum dan menyesuaikan irama. “Kau tahu? Aku lebih rela memeluk hujan dari pada tidak bisa melihatmu ketika aku tahu aku punya kesempatan bertemu denganmu”

Jaejoong berbicara tepat di depan bibirku. Membuat desiran darahku mengalir lebih cepat. Memaksaku memutar badan kami agar merebah di ranjang. Aku segera menyerangnya dengan cumbuan. Keluhan Jaejoong terdengar sempurna di telingaku. Kami melepaskan ciuman, kemudian saling menatap.

“Ame ga dakishimete mo, kimi ni aetara ureshii darou, boku wa itsumo koko ni, kimi dake no tame, atatakai ni agerun da” bisik-ku. Lalu kembali menyerang bibir Jaejoong dengan lebih intensif. Ia kembali menggumam di sela cumbu-rayu kami.

“Sore nara, ame ga dakishimete mo ii jya-”

Selanjutnya kami berhenti berbicara. Dan saling memberikan kehangatan dengan cara kami. Di usia kami seharusnya hal ini tidak termasuk hal nakal. Sekarang aku malah berharap hujan datang setiap hari.

---------------------------------

Sementara itu,

“Ya Tuhan, kuharap mereka mengerti aku harus mengejar pesawat pagi ke Jepang besok,” keluh Changmin sambil membenamkan kepalanya di dalam bantal dan mendekapnya erat.

~The End~

That’s it, once again sorry for disturb all of you, but I hoping for ur enjoy….
love ya \^.^/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar